Diskusi Virtual Bersama KOMPAK, Mery Kolimon Sebut, Pandemi Mendewasakan & Memandirikan Iman Jemaat

NTT, kupangmedia.id | Perkumpulan anak muda lintas agama yang ikut melibatkan diri dalam Komunitas Peace Maker Kupang (KOMPAK) menggelar diskusi virtual, pada Rabu (12/8/2020), pukul 15.00 – 17.30 (WITA).

Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Komunitas Peace Maker Kupang, Sinode GMIT, dan United Nations Children’s Fund (UNICEF), dengan mengangkat tema besar “Peran Lembaga Agama dalam Penanggulangan Pandemi Covid-19”.

Diskusi ini di lakukan melalui aplikasi zoom, dan yang menjadi moderator adalah Pdt. Emil Hauteas, dengan menghadirkan lima narasumber dari berbagai pemuka agama yakni Ketua Sinode GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon, M. Th., Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Kupang Rm. Gerardus Duka, Pr., Ketua Majelis Agama Buddha Indonesia (Magabudhi) NTT Indra Effendy, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT Ir. H. Jalaluddin Bethan, M.Si., dan Ketua PHDI NTT Dr. I Wayan Dharmawa, MT.

Salah satu narasumber, Ketua Sinode GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon, mengatakan bahwa pihak GMIT cukup serius dalam penanggulangan Virus Corona dengan berbagi edukasi bagi jemaat GMIT, yakni melakukan komunikasi publik dan monitoring terhadap media pemberitaan, termasuk memilih bahan mana yang menjadi prioritas untuk dibagikan kepada klasis dan jemaat.

“Gereja termasuk yang paling disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan sejauh ini, dan GMIT selalu berupaya mendidik umat untuk memahami mengapa perlu, melaksanakan komunikasi publik secara khusus dengan jemaat melalui berbagai media milik GMIT, seperti radio, website, youtube, warta jemaat/mimbar, dan lain-lain.” Ungkap Mery Kolimon, saat menyampaikan materi pada diskusi virtual tersebut.

Ketua Sinode GMIT menyebut selama tiga bulan beribadah dirumah sangat mendewasakan dan memandirikan iman jemaat GMIT, namun ada jemaat yang tidak bisa ibadat secara mandiri, sehingga upaya penguatan iman jemaat sangat penting.

Lanjut Mery Kolimon, bahwa pihak GMIT tetap memberikan dukungan psikososial melalui seksi pastoral, kunjungan kepada umat dalam ancaman pandemi baik secara langsung maupun melalui mediamedia, dan memberikan pendidikan untuk mencegah stigma dan diskriminasi terhadap korban dan keluarga korban.

Selain itu, Wakil Ketua MUI NTT Ir. H. Jalaluddin Bethan, mengatakan bahwa sejauh ini MUI NTT dan umat Islam turut mematuhi himbauan protokol kesehatan yang diterapkan.

“Saya yakin bahwa lembaga-lembaga agama menerapkan aturan tersebut, tetapi masih menjadi tugas kita semua agar lebih disiplin karena banyak acara, kita masih belum mematuhi protokol kesehatan. Hubungan lintas agama harus tetap dijaga, tetap toleran dan bahu membahu menghadapi situasi ini.” Pesan Wakil Ketua MUI NTT itu. (*Yeter Tetty

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *